Labels


daniecantiq blog's

this is my new blog lho, baca....baca...., tulisss....tulis..... terus yah...... C...U....

Pesona Paras Ayu, si Gadis Maluku 03.55

Aku masih duduk di sini, pada sebuah bangku sekolah di dalam kelas, di mana waktu itu kali pertama kau menyapaku setelah 3 tahun aku memendam asa. Untuk mencari-cari sebuah kerinduan darimu, tentang wajah, sikap, bahkan air mata. Tentang tifa yang baru kumengerti maknanya dan tentang sungging senyum-tawa yang selalu kuanggap kata-kata cinta darimu. Mungkin memang bagimu, aku hanyalah sebuah canda pelipur sepi. Tapi, bagiku kau adalah genderang tifa yang selalu dimainkan pada sebuah ritual suci.Semua berawal ketika istirahat sekolah tiba, kulihat kau sedang bercanda dengan para sahabat perempuanmu, di beranda depan kelasmu. Aku tak beranjak dari bangku pojok deretan paling belakang dekat jendela krepyak yang telah kuambil dua kaca paling bawah agar lebih jelas memandangmu. Ketika itu kau tahu aku mengamatimu. Aku pun dapat mengetahui kau mohon izin pada temanmu untuk menghampiriku, dengan lambaian tangan yang kau tujukan pada mereka dan menunjuk ke arahku. Kau berjalan dengan langkah tenang yang dibuat oleh tinggi semampai tubuhmu. Kau terus tersenyum padaku. Senyum bibir yang merekat dengan tatap lekat antara matamu dan mataku. Aku masih dapat mengingat bahwa dulu kau selalu mengangkat sedikit lengan pendek seragammu sehingga aku dapat melihat langsat kulit bisepmu yang jarang tersengat sinar matahari. Rambut sebahu yang kau ikat mirip ekor kuda membuat aku terpana pada kulit lehermu yang putih, dengan bulu tipis yang hampir selalu buatku meringis.
Setiba kau di jendela pengintaianku, dengan sedikit genit kau menyapa"Hai Romi!" kerling mata dan lentik jemari tangan yang kau angkat sejajar dengan pipimu, kau mainkan, menambah susah aku bertingkah."Hai juga, masuklah Ayu!" salah satu teman, meledekku dengan deheman, kau pun hanya tersenyum tanpa rasa malu. Aku senang melihatnya."Tidak, beta di sini saja tak apa, kenapa tangan kau gemetar? Apa yang kau lakukan di sini? Kenapa tak keluar kelas?" Kau melihat sekeliling mejaku, meja yang penuh dengan coretan, krayon, serta buku tulis yang selalu kujadikan buku gambar harian. Dengan memaksa, kau meraih buku tulisku. Di dalamnya terdapat sebuah gambar kepala perempuan yang tertulis namamu di sudut kiri atas lembar buku tulis itu, yang aku kira sebuah lukisan dirimu. Aku tampak gagu ketika kau melihatnya. Dengan senyum dan bibir yang susah bergerak, keringat dingin mulai membasahi seluruh seragam hingga kulit pundak dan punggungku terlihat. Aku mencoba mencari-cari kenyamanan dalam duduk. Seperti menanti-nanti penilaian juri dalam sebuah audisi. Wajahmu yang manis dan sedikit sintal serta matamu yang sedikit tampak besar seperti tumpah pada gambarku yang kau pandangi."Romi, memangnya aku secantik ini?" dengan tenang dan seolah takjub pada gambarku kau berucap. Kemudian, kau memegang dada kiriku sambil tertawa kau pun berucap."Ha..ha.. ada genderang tifa di dada kiri kau." Kau pun langsung berlari kembali menuju beranda depan kelasmu dan tertawa terbahak-bahak dengan para sahabat perempuanmu, seolah wajah takjub yang kulihat tadi telah hilang dari parasmu. Mereka semua, termasuk pula kau, memandang ke arahku dan terus tertawa ketika aku bergerak dan tersenyum kecil melihat kalian.Aku sangat malu, juga gembira ketika itu, di mana kali pertama kau hampiri aku setelah sekian lama kupendam sebuah asmara padamu. Aku pun tak peduli apa yang kalian tertawakan.Setiba kau di jendela pengintaianku, dengan sedikit genit kau menyapa"Hai Romi!" kerling mata dan lentik jemari tangan yang kau angkat sejajar dengan pipimu, kau mainkan, menambah susah aku bertingkah."Hai juga, masuklah Ayu!" salah satu teman, meledekku dengan deheman, kau pun hanya tersenyum tanpa rasa malu. Aku senang melihatnya."Tidak, beta di sini saja tak apa, kenapa tangan kau gemetar? Apa yang kau lakukan di sini? Kenapa tak keluar kelas?" Kau melihat sekeliling mejaku, meja yang penuh dengan coretan, krayon, serta buku tulis yang selalu kujadikan buku gambar harian. Dengan memaksa, kau meraih buku tulisku. Di dalamnya terdapat sebuah gambar kepala perempuan yang tertulis namamu di sudut kiri atas lembar buku tulis itu, yang aku kira sebuah lukisan dirimu. Aku tampak gagu ketika kau melihatnya. Dengan senyum dan bibir yang susah bergerak, keringat dingin mulai membasahi seluruh seragam hingga kulit pundak dan punggungku terlihat. Aku mencoba mencari-cari kenyamanan dalam duduk. Seperti menanti-nanti penilaian juri dalam sebuah audisi. Wajahmu yang manis dan sedikit sintal serta matamu yang sedikit tampak besar seperti tumpah pada gambarku yang kau pandangi."Romi, memangnya aku secantik ini?" dengan tenang dan seolah takjub pada gambarku kau berucap. Kemudian, kau memegang dada kiriku sambil tertawa kau pun berucap."Ha..ha.. ada genderang tifa di dada kiri kau." Kau pun langsung berlari kembali menuju beranda depan kelasmu dan tertawa terbahak-bahak dengan para sahabat perempuanmu, seolah wajah takjub yang kulihat tadi telah hilang dari parasmu. Mereka semua, termasuk pula kau, memandang ke arahku dan terus tertawa ketika aku bergerak dan tersenyum kecil melihat kalian.Aku sangat malu, juga gembira ketika itu, di mana kali pertama kau hampiri aku setelah sekian lama kupendam sebuah asmara padamu. Aku pun tak peduli apa yang kalian tertawakan.
Tiba-tiba dokter menghampiriku dalam bilik yang tertutup rapat. Semua teman-teman yang melakukan stimulasi dengan bermain bebas di lapangan sebelah bangsal pun telah diperintahkan masuk biliknya masing-masing. Sementara hari telah gelap, aku masih berada di dalam bilik, sedari tadi menggambar wajah Ayu, dekat jendela sambil duduk bersila di atas ranjang
oleh Pangky Sudarwanto

0 komentar: